Thursday, 5 April 2012


( KAIDAH KE 16 )

إِذَا كَانَ الْفَاءُ اِفْتَعَلَ صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً قُلِبَتْ تَاؤُهُ طَاءً لِتَعَسُّرِ النَّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإِنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالطَّاءِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا نَحْوُ اِصْطَلَحَ وَ اِضْطَرَبَ وَ إِطَّرَدَ وَ  اِظَّهَرَ أصْلهَا اِصْتَلَحَ وَ اِضْتَرَبَ وَ اِطْتَرَدَ وَ اِظتَهَرَ

Apabila ada Fa’ Fi’il dari wazan اِفْتَعَلَ  berupa huruf Shod,Dhod,Tho’ dan Dzo’(huruf Ithbaq),maka huruf  Ta’ yag jatuh sesudah huruf Ithbaq tersebut harus diganti Tha’,karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq.Digantinya Ta’ dengan Tho’ itu karena berdekatanya makhrojnya Ta’ dan Tho’.contoh:   اِصْطَلَحَ, اِضْطَرَبَ, إِطَّرَدَ dan اِظَّهَرَ asalnya اِصْتَلَحَ, اِضْتَرَبَ, اِطْتَرَدdan اِظتَهَرَ  .
Praktek I’lal:
اِصْطَلَحَ
اِصْطَلَحَ asalnya  اِصْتَلَحَ  mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tho’ karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq dan karena saling berdekatannya makhrajnya Ta’ dan Tho’,maka menjadi اِصْطَلَحَ.
اِضْطَرَبَ
اِضْطَرَبَ asalnya  اِضْتَرَبَ mengikuti wazan  Ta’ diganti Tho’ karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq dan karena saling berdekatannya makhrajnya Ta’ dan Tho’, maka menjadi اِضْطَرَبَ.
اِطَّرَدَ
اِطَّرَدَ asalnya اِطْتَرَدَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ  Ta’ diganti Tho’ karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq dan karena saling berdekatannya makhrajnya Ta’ dan Tho’,maka menjadi  اِطْطَرَدَ kemudian Tho’ yang pertama diIdghomkan pada Tho’ yang kedua karena dua huruf yang sejenis, maka menjadi اِطَّرَدَ.
اِظَّهَرَ
اِظَّهَرَ  asalnya اِظتَهَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Tho’ karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Ithbaq dan karena saling berdekatannya makhrajnya Ta’ dan Tho’, maka menjadi اِظطَهَرَ kemudian Tho’ diganti Zho’ karena sama-sama huruf isti’la’nya, maka menjadi  اِظْظَهَرَ kemudian Zho’ yang pertama diIdghomkan pada Zho’ yang kedua karena dua huruf yang sejenis, maka menjadi اِظَّهَرَ.
Huruf Isti’la’ ada 7 yaitu: خ, ص, ض, غ, ط, قِdanظ


AL-QO’IDAH
Apabila ada Wawu dan Ya’ berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat fathah maka:
Ø  Jika Harokat Wawu dan Ya’ tersebut adalah Asli maka Wawu dan Ya’ tersebut harus diganti Alif Contoh: صَانَ  dan بَاعَ  asalnya صَوَنَ dan بَيَعَ
Ø  Jika Harokat Wawu dan Ya’ tersebut adalah tidak Asli maka tidak boleh dirubah Contoh: دَعَوُاالْقَوْمَ  asalnya   دَعَوْا أَلْقَوْمَ
Apabila setelah wawu dan Ya’ itu adalah huruf yang mati,maka diklarifikasikan sebagai berikut:
ü  Jika Wawu atau Ya’ tidak pada posisi Lam Fi’il, maka tidak boleh di I’lal, karena dihukumi seperti Huruf Shahih. Contoh: بَيَانٌ, طَوِيْلٌ, خَوَرْنَقٌ.
ü  Jika Wawu dan Ya’ berada pada posisi Lam Fi’il, maka tetap berlaku Kaidah I’lal ini. Contoh يَخْشَوْنَ asalnya يَخْشَيُوْنَ . Namun disyaratkan huruf yang mati setelah Wawu dan Ya’ tersebut bukan huruf Alif dan huruf Ya’ yang ditasydid,maka yang demikian juga tidak boleh di-I’lal. Contoh: رَمَيَا dan عَلَوِيٌّ



يَخْشَوْنَ

يَخْشَوْنَ  asalnya يَخْشَيُوْنَ  mengikuti wazan يَفْعَلُوْنَ Ya’ diganti Alif karena Ya’ berharokat dan jatuh setelah harokat Fathah yang sambung dalam satu kalimat,maka terjadilah pertemuan dua huruf yang mati yaitu huruf Alif dan Wawu,maka menjadi يَخْشَاوْنَ .kemudian huruf Alif dibuang untuk mencegah bertemunya dua huruf yang mati,maka menjadi يَخْشَوْنَ .

( KAIDAH KE 15 )

إِنَّ اسْمَ الْمَفْعُوْلِ إذَا كَانََََ مِنْ مُعْتَلِّ الْعَيْنِ وَجَبَ حَذْفُ وَاوٍ الْمَفْعُوْلِ مِنْهُ عِنْدَ سِيْبَوَيْهِ  نَحْوُ مَصُوْنٌ وَ مَسِيْرٌ أَصْلُهُمَا مَصْوُوْنٌ وَ مَسْيُوْرٌ

Sesungguhnya Isim Maf’ul apabila‘Ain Fi’ilnya berupa huruf ‘Ilat (Bina’ Ajwaf) maka wajib membuang Wawu Maf’ulnya menurut Imam Syibawaeh (menurut Imam lain yg dibuang adalah Ain Fi’ilnya). contoh: مَصُوْنٌ dan مَسِيْرٌ asalnya مَصْوُوْنٌ dan  مَسْيُوْرٌ
Praktek I’lal:
مَصُوْنٌ
مَصُوْنٌ   asalnya  مَصْوُوْنٌ  mengikuti wazan  مَفْعُوْلٌ  Harokat Wawu dipindah  pada huruf sebelumnya karena Wawu berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf shohih yang mati untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi مَصُوْوْنٌ ( lihat kaidah ke 2 ),maka terjadilah pertemuan dua huruf yang mati,yaitu Wawu yang pertama adalah Wawu ‘Ain Fi’il dam Wawu yang kedua adalah Wawu Maf’ul maka Wawu Maf”ulnya di buang untuk mencegah bertemunya dua huruf yang mati (menurut Imam Sibawaeh),maka menjadi مَصُوْنٌ .
مَسِيْرٌ
مَسِيْرٌ  asalnya مَسْيُوْرٌ  mengikuti wazan مَفْعُوْلٌ Harokat Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya karena Ya’ berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf shohih yang mati untuk menolak beratnya mengucapkan maka menjadi مَسُيْوْرٌ (lihat i’lal ke 2), maka terjadilah pertemuan dua huruf yang mati yaitu Ya’ ‘Ain Fi’il dan Wawu Maf’ul,untuk menolak beratnya mengucapkan,maka Wawu Maf’ulnya dibuang untuk menolak beratnya mengucapkan (menurut Imam Sibawaeh) maka menjadi  مَسِيْرٌ.
Normal 0 false false false
( KAIDAH KE 14 )

إِذَا كَانَتِ الْيَاءُ سَاكِنَةً وَكَانَ مَا قَبْلَهَا مَضْمُوْمًا أُبْدِلَتْ وَاوًا نَحْوُ يُوْسِرُ وَ مُوْسِرٌ أَصْلُهُمَا يُيْسِرُ وَ مُيْسِرٌ

Apabila ada Ya’ yang mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat Dlommah maka huruf Ya’ harus diganti dengan Wawu. contoh: يُوْسِرُ   dan مُوْسِرٌ asalnya يُيْسِرُ  dan مُيْسِرٌ
Praktek I’lal:
يُوْسِرُ
يُوْسِرُ  asalnya يُيْسِرُ  mengikuti wazan يُفْعِلُ  Ya’ yang  kedua diganti dengan Wawu karena huruf Ya’ mati dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat Dlommah,maka menjadi يُوْسِرُ .
مُوْسِرٌ
مُوْسِرٌ asalnya مُيْسِرٌ  mengikuti wazan مُفْعِلٌ  Ya’ diganti Wawu, karena huruf Ya’ mati dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat Dlommah,maka menjadi  مُوْسِرٌ.
( KAIDAH KE 13 )

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ طَرْفًا بَعْدَ ضَمٍّ فِيْ اسْمٍ مُتَمَكِّنٍ فِي اْلأَصْلِ أُبْدِلَتْ يَاءً فَقُلِبَتِ الضَّمَّةُ كَسْرَةً بَعْدَ تَبْدِيْلِ الْوَاوِ يَاءً نَحْوُ تَعَاطِيًا وَ تَعَدِّيًا أَصْلُهُمَاُ تَعَاطُوًا وَ تَعَدُّوًا.

Apabila ada Wawu berada di akhir kalimat dan jatuh sesudah harokat dhommah dan berada pada isim yang asalnya menerima tanwin,maka Wawu tersebut harus diganti Ya’,kemudian setelah itu harokat dhommah diganti kasroh. Contoh: تَعَاطِيًا  dan تَعَدِّيًا asalnya تَعَاطُوًا   dan تَعَدُّوًا.

Praktek I’lal:
تَعَاطِيًا
تَعَاطِيًا  asalnya تَعَاطُوًا mengikuti wazan تَفَاعُلاً Wawu diganti Ya’ karena mengikuti pada Fi’il Madlinya,maka menjadi تَعَاطُيًًا kemudian huruf Tho’ dikasroh untuk mencocokkan dengan huruf Ya’. Maka menjadi تَعَاطِيًا.



تَعَدِّيًا
تَعَدِّيًا  asalnya تَعَدُّوًا  mengikuti wazan تَفَعُلاً Wawu diganti Ya’ karena mengikuti pada Fi’il Madlinya, maka menjadi تَعَدُّيًًا kemudian huruf Dalnya dikasroh untuk mencocokkankan dengan huruf Ya’. Maka menjadi  تَعَدِّيًا.

( KAIDAH KE 12 )

إِنَّ الْوَاوَ وَالْيَاءَ السَّاكِنَتَيْنِ لاَ تُبْدَلاَنِ آلِفًا إِلاَّ إِذَا كَانَ سُكُوْنُهُمَا غَيْرَ أَصْلِيٍّ بِأَنْ نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمُا اِلَى مَا قَبْلَهُمَا نَحْوُ أَجَابَ وَ أَبَانَ أَصْلُهُمَاُ أَجْوَبَ وَ أَبْيَنَ.

Sesungguhnya Wawu dan Ya’ yang mati,keduanya tidak boleh diganti Alif, kecuali jika matinya tidak asli,dengan sebab pergantian harokat Wawu dan Ya’ pada huruf sebelumnya (lihat kaidah ke 2). Contoh:  أَجَابَ  dan أَبَانَ asalnya  أَجْوَبَ  dan أَبْيَنَ.
Praktek I’lal:
أَجَابَ
أَجَابَ asalnya  أَجْوَبَ mengikuti wazan أَفْعَلَ harokat Wawu dipindah pada huruf sebelumnya karena Wawu berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf shohih yang mati untuk mencegah beratnya mengucapkan, maka menjadi أَجَوْبَ (lihat kaidah I’lal ke 2).Kemudian Wawu diganti alif, karena asalnya Wawu berharokat dan sekarang Wawu jatuh sesudah harokat Fathah (lihat kaidah ke 1). Maka menjadi أَجَابَ.

أَبَانَ
أَبَانَ asalnya  أَبْيَنَ mengikuti wazan أَفْعَلَ harokat Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya karena Ya’ berharokat dan huruf sebelumnya adalah huruf shohih yang mati, untuk mencegah beratnya mengucapkan,maka menjadi أَبَيَْنَ (lihat kaidah ke 2).Kemudian Ya’ diganti Alif, karena asalnya Ya’ berharokat dan sekarang Ya’ jatuh sesudah harokat fathah (lihat kaidah ke 1). Maka menjadi أَبَانَ.

( KAIDAH KE 11 )

أَلْهَمْزَتَانِ اِذَا الْتَقَتَا فِيْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ ثَانِيَتُهُمَا سَاكِنَةٌ وَجَبَ اِبْدَالُ الثّانِيَةِ بِحَرْفٍ نَاسَبَ اِلَى حَرْكَةِ اْلأُوْلَىْ نَحْوُ آمَنَ وَ أُوْمُلْ وَ اِيْدِمْ أصْلهَا أَأْمَنَ وَ أُؤْمُلْ وَ إِئْدِمْ.

Apabila ada dua huruf  Hamzah berkumpul dalam satu kalimat dan Hamzah yang kedua mati maka Hamzah yang kedua harus diganti dengan harokat yang sesuai dengan Harokat Hamzah yang pertama.contoh:آمن , أومل dan اِيْدِمْ asalnya أأمن,    أؤمل  dan  إِئْدِمْ.

Praktek I’lal:

آمَنَ

َآمَن  asalnya  أَأْمَنَ  mengikuti wazan   أَفْعَلَ Ada dua Hamzah berkumpul dalam satu kalimat dan Hamzah yang kedua mati, maka Hamzah yang kedua diganti Alif, karena Hamzah yang kedua mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat fathah. maka menjadi 

 آ   أُوْمُلْ

ْasalnya أُوْمُل  أُؤْمُل  mengikuti wazan أُفْعُلْ; Ada dua Hamzah berkumpul dalam satu kalimat dan Hamzah yang kedua mati,maka Hamzah yang kedua diganti Wawu, karena Hamzah yang kedua mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat dhommah. maka menjadi أُوْمُل

اِيْدِمْ

اِيْدِم asalnya  إئْدِم mengikuti wazan اِفْعِلْ Ada dua Hamzah berkumpul dalam satu kalimat dan Hamzah yang kedua mati,maka Hamzah yang kedua diganti Ya’, karena Hamzah yang kedua mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat kasroh. maka menjadi اِيْدِم.


خُذْ

خُذْ  asalnya أُؤْخُذ mengikuti wazan  أُفْعُلْ; Ada dua Hamzah berkumpul dalam satu kalimat dan Hamzah yang kedua mati, maka Hamzah yang kedua diganti Wawu, karena Hamzah yang kedua mati dan sebelumnya adalah huruf yang berharokat dhommah. maka menjadi أُوْخُذ .kemudian huruf Wawu dibuang untuk meringankan penggunaan (pengucapan), maka menjadi أُخُذ ,kemudian Hamzah Washolnya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi خُذْ
 


Perhatian :

Dan boleh membuang Hamzah yang kedua dari lafadz أُؤْخُذ , أُؤْكُلْdan أُؤْمُرْ dengan tanpa mengganti Hamzah yang kedua dengan Wawu.
pada lafadz أُوْخُذ dibuang untuk meringankan ucapan, sedangkan pada lafadz أُوْمُل cukup tanpa membuang Wawu, karena menjaga dari keserupaan dengan fi’il amarnya lafadz   مُليَمُوْلُ   – مَالَ