Thursday, 2 April 2015



 Kisah ini di cerikakan oleh  Zin-Nun rahimahlah di mana pada suatu hari beliau bercadang untuk pergi ke seberang laut untuk mencari barang yang di hajatinya.  Setelah persiapan diatur, beliau telah membeli tiket untuk menaiki kapal untuk menuju ke tempat yang dihajatinya.  Kapal yang di naiki oleh Zin-Nun penuh sesak dengan orang ramai. Di antara penumpang-penumpang yang menaiki kapal tersebut, ada seorang pemuda yang sangat kacak paras rupanya, wajahnya bersinar cahaya.  Pemuda itu duduk di tempat duduk dengan tenang sekali, tidak seperti penumpang lain yang kebanyakkannya mudar-mandir di atas kapal itu.
 Keadaan di dalam kapal tersebut agak panas kerana suasana di dalam kapal tersebut penuh sesak dengan orang ramai.  Pada peringkat permulaan pelayaran, keadaannya berjalan dengan lancar sekali kerana keadaan laut tidak bergelombang dan angain bertiup tidak terlalu kencang.  Suasana di dalam kapal ketika itu sangat tenang, kerana penumpang dengan hal masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pengumuman yang di buat oleh kapten kapal tersebut bahawa dia telah kehilangan satu barang yang sangat berharga.  Satu pemeriksaan akan dijalankan sedikit masa lagi.  Semua penumpang di ingatkan supaya duduk di tempat masing-masing.
Keadaan di dalam kapal tersebut telah menjadi hingar-bingar kerana penumpang sibuk bercakap dan berpandangan di antara satu sama lain. Masing-masing membuat andaian tersendiri mengenai kehilangan barang tersebut.  Tidak berapa lama kemudian, pemeriksaan di lakukan seorang demi seorang, semua beg,  barang-barang digelidah tetapi tidak  menjumpai barang yang di cari.  Akhirnya sampai kepada pemuda yang disebutkan oleh Zin- Nun.  Oleh kerana pemuda itu orang terakhir yang di periksa, pada anggapan orang ramai dan pegawai pemeriksa sudah tentu pemuda ini yang mencuri barang tersebut. Maka pemuda itu di perlakukan dengan kasar sekali di dalam pemeriksaan tersebut, pemuda itu memprotes di atas tindakan kasar yang di lakukan oleh pegawai pemeriksa sambil berkata, bahawa dia bukannya seorang pencuri,  Dengan protes tersebut, ia menambahkan lagi syak wasangka pegawai dan kapten tersebut.
Oleh kerana tidak tahan dengan kekasaran yang di lakukan oleh pemeriksa tersebut, maka pemuda itu terjun ke laut, yang menghairankan orang ramai yang memerhatikan tingkah laku pemuda itu ialah pemuda itu tidak tenggelam di dalam laut, mala ia duduk di atas permukaan air.  Pemuda itu berdoa kepada Allah dengan suara yang keras sekali "Ya Allah, mereka sekalian menuduhku pencuri, demi ZatMu, wahai tuhan yang membela orang teraniaya, perintahkan ikan-ikan di laut supaya timbul dan membawa permata-mata berharga di mulutnya".
Tidak lama kemudian, dengan kuasa Allah beribu-ribu ikan timbul dan kelihatan di mulutnya batu-batu permata yang berkilauan cahayanya.  Semua orang yang berada di atas kapal bersorak dan menepuk tangan kepada pemuda itu.  kapten kapal dan pegawainya sungguh terperanjat dan bingung seolah-oleh tidak percaya apa yang telah mereka telah lihat.
Pemuda itu berkata "Apakah kamu sekalian masih menuduhku sebagai pencuri pada hal perbendaharaan Allah ada di tanganku dan jika mahu aku boleh mengambilnya".  Kemudian pemuda itu menyuruh ikan-ikan tersebut kembali ke tempat asal mereka dan pemuda itu berdiri dan berlari di atas air dengan cepat sekali sambil menyebut ayat ke- 4 surah Al Fatihah yang bermaksud 'Hanya kepada Mulah aku menyembah dan hanya kepada Mu pula aku meminta bantuan

Wednesday, 23 July 2014

( KAIDAH KE 2 )

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ عَيْنًا مُتَحَرِّكَةً مِنْ أَجْوَفٍ وَكَانَ مَا قَبْلَهُمَا سَاكِنًا صَحِيْحًا نُقِلَتْ حَرْكَتُهُمَا إلىَ مَا قَبْلَهُمَا, نَحْوُ يَقُوْمُ وَ يَبِيْعُ أَصْلُهمَا يَقْوُمُ وَ يَبْيِعُ.

Apabila ada Wawu  atau  Ya’  berharokat  yang berada pada ‘ain  fi’il  Bina’ Ajwaf  dan  huruf sebelumnya  terdiri  dari huruf  Shohih  yang mati maka harokat  Wawu  atau Ya’ tersebut  harus dipindah pada huruf sebelumnya.Contoh:  يَقُوْمُ  dan يَبِيْعُ  asalnya يَقْوُمُ  dan  يَبْيِعُ.
{ أَلإِعْلاَلُ } يَقُوْمُ أَصْلُهُ يَقْوُمُ عَلىَ وَزْنِ يَفْعُلُ نُقِلَتْ حَرَكَتُ الْوَاوِ إِلَى مَاقَبْلَهَا لِتَحَرُّكِهاَ وَسُكُونِ حَرْفِ صَحِيْحٍ قَبْلَهَا دَفْعًا لِلثِّقَلِ فَصَارَ يَقُوْمُ
يَقُوْمُ  asalnya  يَقْوُمُ  mengikuti wazan  يَفْعُلُ . Harokat Wawu dipindah pada huruf sebelumnya, karena Wawu  ber harokat dan  huruf  sebelumnya adalah  huruf  shohih  yang mati,untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi  يَقُوْمُ
{ أَلإِعْلاَلُ } يَبِيْعُ أَصْلُهُ يَبْيِعُ عَلىَ وَزْنِ يَفْعِلُ نُقِلَتْ حَرَكَتُ الْيَاءِ إِلَى مَاقَبْلَهَا لِتَحَرُّكِهاَ وَسُكُونِ حَرْفِ صَحِيْحٍ قَبْلَهَا دَفْعًا لِلثِّقَلِ فَصَارَ يَبِيْعُ

يَبِيْعُ   asalnya  يَبْيِعُ  mengikuti wazan  يَفْعِلُ  Harokat Ya’ dipindah pada huruf sebelumnya, karena Ya’  berharokat dan  huruf  sebelumnya  adalah  huruf  shohih  yang mati,untuk menolak beratnya mengucapkan, maka menjadi  يَبِيْعُ
( KAIDAH KE 1 )
إذَا تَحَرَّكَتِ الْوَاوُ وَالْيَاءُ بَعْدَ فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِيْ كِلْمَتَيْهِمَا أُبْدِلَتَا آلِفًا مِثْلُ صَانَ و َبَاعَ أَصْلُهمَا صَوَنَ و بَيَعَ.
Apabila ada Wawu atau Ya’ berharokat, jatuh setelah harokat Fathah dalam satu kalimat, maka Wawu atau Ya’ tersebut  harus diganti dengan Alif contoh :  صَانَ  dan بَاعَ  asalnya صَوَنَ dan بَيَعَ .
{ أَلإِعْلاَلُ } صَانَ أَصْلُهُ  صَوَنَ عَلَى وَزْنِ فَعَلَ أُبْدِلَتِ الْوَاوُ أَلِفاً لِتَحَرُّكِهَا بَعْدَ فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِى كِلْمَتهَا فَصَارَ صَانَ
صَانَ  asalnya صَوَنَ mengikuti wazan  فَعَلَ. Wawu diganti Alif  karena Wawu berharokat dan  jatuh  setelah  Huruf yang berharokat Fathah, maka menjadi صَانَ.
{ أَلإِعْلاَلُ } بـَاعَ أَصْلُهُ  بَيَعَ عَلَى وَزْنِ فَعَلَ أُبْدِلَتِ الْيَاءُ أَلِفاً لِتَحَرُّكِهَا بَعْدَ فَتْحَةٍ مُتَّصِلَةٍ فِى كِلْمَتهَا فَصَارَ باَعَ

بَاعَ  asalnya  بَيَعَ mengikuti wazan فَعَلَ. Ya’ diganti Alif karena Ya’  berharokat dan  jatuh  setelah  Huruf  yang berharokat Fathah, maka menjadi  بَاع َ.
MACAM MACAM BINA’
Bina’ terbagi menjadi 7,yang terkumpul dalam Bait:
أَجْــوَفُ مَهْمُــوْزٌ نَــاقِصٌ لَفِيْــفٌ  ☼  مُضَــاعَفُ أَوْ مِثـَالٌ أَوْ صَحِيحٌ
1.Bina’ Shohih, terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’ Shohih Tsulatsi, Yaitu :Setiap kalimat yang Fa’ Fi’il,’Ain Fi’il dan Lam Fi’ilnya tidak berupa Huruf Hamzah dan juga tidak berupa huruf ‘illat (واي),serta ‘ain F’ilnya tidak sejenis dengan Lam Fi’ilnya,Contoh : نَــصَــرَ
2.Bina’ Shohih Ruba’I, Yaitu : Setiap kalimat yang Fa’ Fi’ilnya tidak sejenis dengan Lam Fi’il pertama,serta ‘ain fi’il dan Lam fi’il kedua tidak sejenis,Contoh : دَخْــرَجَ
2.Bina’ Mitsal,terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’ Mitsal Wawi,Yaitu :Setiap kalimat yang Fa’ Fi’ilnya berupa huruf Wawu,Contoh : وَعَــدَ
2.Bina’ Mitsal Ya’I,Yaitu :Setiap kalimat yang Fa’ Fi’ilnya berupa huruf Ya’,Contoh : يَسَـــرَ
3.Bina’ Mudlo’af,terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’ Mudlo’af Tsulatsi,Yaitu :Setiap kalimat yang ‘Ain  Fi’ilnya berupa huruf  yang sejenis dengan Lam Fi’ilnya,Contoh :  مـَدَّ Asalnya مـَدَدَ

2. Bina’ Mudlo’af Ruba’i,Yaitu :Setiap kalimat yang Fa’ Fi’ilnya berupa huruf  yang sejenis dengan Lam Fi’il pertama,begitu juga dengan ‘Ain Fi’ilnya berupa huruf yang sejenis dengan Lam Fi’il kedua,Contoh : طَـأْطَـأَ
4.Bina’ Lafif,terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’ Lafif Mafruq,Yaitu :Setiap kalimat yang Fa’ Fi’il dan Lam Fi’ilnya berupa huruf Ilat,Contoh : وَقـَـى
2.Bina’ Lafif Maqrun,Yaitu :Setiap kalimat yang ‘Ain Fi’il dan Lam Fi’ilnya berupa huruf Ilat,Contoh : شَـوَى
5. Bina’ Naqish,terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’ Naqish Wawi,Yaitu : Setiap kalimat yang  Lam Fi’ilnya berupa huruf Ilat Wawu,Contoh : غَــزَا asalnya غَــزَوَ
2.Bina’ Naqish Ya’i,Yaitu : Setiap kalimat yang  Lam Fi’ilnya berupa huruf Ilat Ya’,Contoh : سَــرَى asalnya سَــرَيَ
6.Bina’ Mahmuz,terbagi menjadi 3,Yaitu :
1.Bina’ Mahmuz Fa’,Yaitu : Setiap kalimat yang  Fa’ Fi’ilnya berupa huruf Hamzah,Contoh : أَدَمَ
2. Bina’ Mahmuz ‘Ain,Yaitu : Setiap kalimat yang  ‘Ain Fi’ilnya berupa huruf Hamzah,Contoh : سَـأَلَ
3.Bina’ Mahmuz Lam,Yaitu : Setiap kalimat yang  Lam Fi’ilnya berupa huruf Hamzah,Contoh : قَــرَأَ
7.Bina’Ajwaf,terbagi menjadi 2,Yaitu :
1.Bina’Ajwaf Wawi,Yaitu : Setiap kalimat yang  ‘Ain Fi’ilnya berupa huruf Ilat Wawu,Contoh : صَـانَ asalnya صَـوَنَ
2.Bina’Ajwaf Ya’I,Yaitu : Setiap kalimat yang  ‘Ain Fi’ilnya berupa huruf Ilat Ya’,Contoh : سَـارَ asalnya سَـيَـرَ

Friday, 6 April 2012


( KAIDAH KE 19 )

إذَا كَانَ فَاءُ تَفَعَّلَ وَتَفَاعَلَ تَاءً أَوْ ثَاءً أوْ دَالاً أوْ ذَالاَ أَوْ زَايًا أوْ سِيْنًا أَوْ شِيْنًا أَوْ صَادًا أَوْ ضَادًا أَوْ طَاءً أَوْ ظَاءً يَجُوْزُ قَلْبُ تَائِهِمَا بِمَا يُقَارِبُهُ فِِي الْمَخْرَجِ ثُمَّ أُدْغِمَتِ اْلاُوْلَى فِي الثَّانِيَّةِ بَعْدَ جَعْلِ أَوَّلِ الْمُتَقَارِبَيْنِ مِثْلَ الثَّانِيْ لِلْمُجَانَسَةِ مَعَ اجْتِلاَبِ هَمْزَةِ الْوَصْلِ لِيُمْكِنَ اْلاِبْتِدَاءُ بِالسَّاكِنِ نَحْوُ اِتَّرَسَّ وَاِثَّاقَلَ وَاِدَّثَّرَ واِذَّكَّرَ وَاِزَّجَّرَ وَاِسَّمَّعَ وَاِشَّقَّقَ وَ اِصَّدَّقَ وَاِضَّرَّعَ وَاِظَّهَّرَ وَاِطَّاهَرَ أصْلهَا تَتَرَّسَ وَ تَثَاقَلَ وَ تَدَثَّرَ وَ تَذَكَّرَ وَ تَزَجَّرَ وَ تَسَمَّعَ وَ تَشَقَّقَ وَ تَصَدَّقَ وَ تَضَرَّعَ وَ تَظَهَّرَ وَ تَطَاهَرَ.

Apabila ada kalimat yang mengikuti Wazan  تَفَعَّلَ dan تَفَاعَلَ dan Fa’ Fi’ilnya berupa  huruf ت ث، د، ذ، ز، س, ش, ص ض,, ط,ظ  ,maka Ta’ dari kedua wazan tersebut boleh diganti dengan huruf yang mendekati dalam Makhrojnya (ت s/d ظ ),kemudian huruf yang pertama diidghomkan pada huruf yang kedua,demikian ini setelah huruf yang pertama dari kedua huruf yang berdekatan makhrojnya tersebut dijadikan serupa dengan huruf yang kedua serta memasang Hamzah Washol untuk mengawali huruf yang mati. Contoh: اِتَّرَسِ , اِثَّاقَلَ, اِدَّثَّرَ, اِذَّكَّرَ, اِزَّجَّرَ, اِسَّمَّعَ, اِشَّقَّقَ, اِصَّدَّقَ, اِضَّرَّعَ, اِظَّهَّرَdan اِطَّاهَرَ asalnya تَتَرَّسَ, تَثَاقَلَ, تَدَثَّرَ, تَذَكَّرَ, تَزَجَّرَ, تَسَمَّعَ, تَشَقَّقَ, تَصَدَّقَ, تَضَرَّعَ, تَظَهَّرَ dan تَطَاهَرَ . 
Praktek I’lal :
اِتَّرَسَ
اِتَّرَسَ  asalnya  تَتَرَّسَ  mengikuti wazan  تَفَعَّلَ  huruf  Ta’ yang pertama disukun sebagai  syarat idghom maka menjadi تْتَرَّسَ  maka Ta’ yang pertama diidghomkan  pada  Ta’ yang kedua karena sejenis serta mendatangkan Hamzah Washol di permulaannya supaya memungkinkan mendahului membaca huruf yang mati.Maka menjadi اِتَّرَسَ
اِثَّاقَلَ
اِثَّاقَلَ  asalnya تَثَاقَلَ  mengikuti wazan تَفَاعَلَ huruf  Ta’ diganti  Tsa’ karena berdekatan Makhrojnya,maka menjadi ثَثَاقَلَ kemudian huruf Tsa’ yang pertama disukun sebagai syarat idghom maka menjadi  ثَثَاقَلَ .maka Tsa’ yang pertama di-idghamkan pada Tsa’ yang kedua karena huruf sejenis serta mendatangkan Hamzah Washol di permulaannya supaya memungkinkan mendahului membaca huruf yang mati. Maka menjadi اِثَّاقَلَ .
Lafadz  اِدَّثَّرَ, اِذَّكَّرَ, اِزَّجَّرَ, اِسَّمَّعَ, اِشَّقَّقَ, اِصَّدَّقَ, اِضَّرَّعَ, اِظَّهَّرَ  dan اِطَّاهَرَ .dapat diI’lal dengan diikutkan pada peng-I’lalan pada lafadz اِثَّاقَلَ.


( KAIDAH KE 18 )

إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ وَاوًا أوْ يَاءً أوْ ثَاءً قُلِبَتْ فَاؤُهُ تَاءً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِحَرْفِ اللَّيْنِ السَّاكِنِِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ مُقَارَبَةِ الْمَخْرَجِ وَمُنَافَاةِ الْوَصْفِ ِلأَنَّ حَرْفَ اللَّيْنِ مَجْهُوْرَةٌ وَالتَّاءُ مَهْمُوْسَةٌ  نَحْوُ اِتَّصَلَ وَ اِتَّسَرَ وَ اِثَغَرَ أصْلهَا اِوْتَصَلَ وَ اِيْتَسَرَ وَ اِثَتَغَرَ

Apabila ada kalimat mengikuti wazan اِفْتَعَلَ dan Fa’ Fi’ilnya berupa huruf wau,Ya’ atau Tsa’, maka huruf  Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’,karena sulitnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) yang mati yang bertemu dengan huruf Ta’.Dan diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrojnya dan berbeda sifatnya, karena huruf “layn” (وي) bersifat Jahr  sedangkan huruf  Ta’ bersifat Hams. Contoh: اِتَّصَلَ , اِتَّسَرَdanاِثَغَرَ asalnya اِوْتَصَلَ , اِيْتَسَرَ dan اِثَتَغَرَ. 




Praktek I’lal:
اِتَّصَلَ
اِتَّصَلَ asalnya  اِوْتَصَلَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Vawu diganti Ta’ karena sulitnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) yang mati yang bertemu dengan huruf Ta’.Dan diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrojnya dan berbeda sifatnya, karena huruf “layin” (وي) bersifat Jahr  sedangkan huruf  Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَصَلَ  kemudian Ta’ yang pertama diidghomkan pada Ta’ yang kedua karena keduanya adalah huruf yang sejenis maka menjadi  اِتَّصَلَ.
اِتَّسَرَ
اِتَّسَرَ asalnya اِيْتَسَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ya’ diganti Ta’ karena sulitnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) yang mati yang bertemu dengan huruf Ta’.Dan diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrojnya dan berbeda sifatnya, karena huruf “layin” (وي) bersifat Jahr  sedangkan huruf  Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَصَلَ  kemudian Ta’ yang pertama diidghomkan pada Ta’ yang kedua karena keduanya adalah huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّسَرَ.


وَإنْ كَانَ ثَاءً يَجُوْزُ قُلْبُ تَاءِ اِفْتَعَلَ ثَاءً ِلاتِّحَادِهِمَا فِي الْمَهْمُوْسِيَّةِ نَحْوُ اِثَغَرَ أَصْلُهُ اِثَتَغَرَ.

Apabila ada Fa’ fi’il dari kalimat yang mengikuti wazan اِفْتَعَلَ berupa Tsa’,maka boleh mengganti Ta’ dengan Tsa’ karena keduanya sama-sama memilik sifat Hams.Contoh: اِثَغَرَ asalnya اِثَتَغَرَ .
Praktek I’lal:
اِثَغَرَ
 اِثَغَرَ asalnya اِثَتَغَرَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِثَثَغَرَ kemudian Tsa’yang pertama diidghomkan pada Tsa’yang keduanya karena keduanya adalah huruf yang sejenis,maka menjadi  اِثَغَرَ .
Huruf Hams ada 10 Yaitu:
ت nad,ك,س,ص,خ,ش, هـ ,ِث,ح,ف






اِتَّخَذَ
اِتَّخَذَ asalnya اِئْتَخَذَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Hamzah yang kedua diganti  Ya’ karena Hamzah mati dan huruf sebelumnya adalah huruf yang berharokat kasroh,maka menjadi اِيْتَخَذَ kemudian huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias*)kemudian Ta’ yang pertama diidghomkan pada Ta’ yang kedua karena sejenis,maka menjadi اِتَّخَذَ.
Pergantian Ya’ dengan Ta’ tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz (langka).

Thursday, 5 April 2012


( KAIDAH KE 17 )

إِذَا كَانَ فَاءُ اِفْتَعَلَ دَالاً أوْ ذَالاً أوْ زَايًا قُلِبَتْ تَاؤُهُ دَالاً لِعُسْرِالنُّطْقِ بِهَا بَعْدَ هَذِهِ الْحُرُوْفِ وَإنَّمَا تُقْلَبُ التَّاءُ بِالدَّالِ لِقُرْبِهِمَا مَخْرَجًا نَحْوُ اِدَّرَأَ وَ اِذَّكَرَ وَ اِزْدَجَرَ أصْلهَا اِدْتَرَأَ وَ اِذْتَكَرَ وَ اِزْتَجَرَ.

Apabila ada Fa’ Fi’il  wazan  اِفْتَعَلَ berupa huruf Dal,Dzal dan Za’,maka huruf Ta’ (Ta’ zaidah wazan اِفْتَعَلَ ) yang jatuh sesudah huruf Dal,Dzal dan Za’ harus diganti Dal,karena sulitnya mengucapkan Ta’ yang jatuh setelah huruf Dal,Dzal dan Za’. Digantinya Ta’ dengan Dal’ karena huruf Dal dan Ta’ berdekatan didalam makhrojnya.Contoh:ئِدَّرَأَ , اِذَّكَرَ dan اِزْدَجَرَ  asalnya اِدْتَرَأَ , اِذْتَكَرَdan اِزْتَجَرَ.
Praktek I’lal:
اِدَّرَأَ
اِدَّرَأَ asalnya اِدْتَرَأَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh  setelah huruf Dal dan karena Ta’ dan Dal saling berdekatan didalam Makhrojnya, maka menjadi  اِدْدَرَأَ. kemudian Dal  yang pertama di-idghomkan pada Dal  yang  kedua  karena  sejenis, maka menjadi  اِدَّرَأَ.

اِذَّكَرَ
اِذَّكَرَ asalnya اِذْتَكَرَ mengikuti wazan  اِفْتَعَلَ Ta’ diganti Dal karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh  setelah huruf Dal dan karena Ta’ dan Dal saling berdekatan didalam Makhrojnya, maka menjadi  اِذْدَكَرَ.Dan boleh mengganti Dal dengan Dzal karena Dal dan  Dzal saling berdekatan didalam Makhrojnya,maka menjadi  اِذْذَكَرَ,kemudian Dzal yang pertama diidghomkan pada Dzal yang kedua karena sejenis,maka menjadi  اِذَّكَرَ. (juga boleh di-i’lal sebagai berikut: kemudian Huruf Dzal diganti Dal kerena Dzal saling berdekatan didalam Makhrojnya, maka menjadi اِدْدَكَرَ kemudian Dal yang pertama diidghomkan pada Dal yang kedua karena sejenis, maka menjadi اِذَّكَرَ.)
اِزْدَجَرَ
اِزْدَجَرَ asalnya اِزْتَجَرَ  mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Ta’ diganti  Dal karena sulitnya mengucapkan huruf Ta’ yang jatuh  setelah huruf Za’ dan karena huruf Ta’ dan Za’ saling berdekatan didalam makhrojnya, maka menjadi اِزْدَجَرَ.